Jika kita berjalan-jalan di daerah kawasan Ganting, kita akan menemukan
sebuah bangunan tua yang terletak di tepi jalan dan bergaya neo klasik eropa. Bangunan tua tersebut
adalah Masjid Raya Ganting yang merupakan masjid tertua di Kota Padang. Masjid
Raya Ganting ini merupakan lokasi serta saksi perkembangan agama Islam di
Sumatera Barat. Masjid ini juga tergolong masjid kuno, dilihat dari kontruksi bangunan masjid yang berbentuk tumpang.
Masjid kuno memiliki ciri-ciri khas seperti berdenah persegi panjang,
mempunyai serambi di depan atau di samping ruang utama, mihrab dibagian barat,
pagar keliling dengan satu pintu utama, dan beratap tumpang. Di Indonesia,
bentuk atap tumpang yang berkembang cukup beragam mulai dari 2 tingkat hingga 7
tingkat. Masjid Raya Ganting sendiri memiliki atap tumpang berjumlah 5 tingkat.
Semua ciri-ciri masjid kuno tersebut bisa dijumpai pada pola bangunan Masjid
Raya Ganting.
Kalau kita berbicara hal-hal yang tua dan kuno yang terbayang dalam
pikiran kita adalah sesuatu yang rapuh, reyot, dan ketinggalan zaman. Namun,
tidak untuk bangunan yang satu ini. Walaupun bangunan masjid ini kuno, Masjid
Raya Ganting termasuk dalam 100 masjid terindah di Indonesia. Menurut Ketua I
Pengurus Masjid Raya Ganting Padang, Masjid Raya Ganting terpilih sebagai salah
satu Masjid terindah di Indonesia, hal ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan
bentuk arsitektur serta nilai sejarah yang dimilikinya.
Masjid Raya Ganting memiliki halaman yang cukup luas di sebelah timur,
sehingga mampu menampung jemaah yang cukup banyak pada
saat shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Halaman depan berpagar besi, sedangkan
sisi selatan dan belakang berpagar tembok berbatasan dengan makam dan rumah
penduduk. Saat berada di dalam bangunan masjid,
pengunjung akan merasakan adanya pembagian ruangan. Ruang masjid dibagi atas
ruang utama, serambi, mihrab, dan mimbar.
Tiang utama masjid berjumlah 25 buah yang berbentuk segi enam berdiameter
40 cm dengan tinggi mencapai 4,2 meter tanpa hiasan terbuat dari beton.
Filosofi jumlah tiang tersebut mengingatkan ummat muslim tentang 25 Rasul Allah
yang bermakna symbol 25 nabi dan rasul. Nama ke-25 nabi dan rasul tersebut
diukir dengan tulisan kaligrafi yang menghiasi setiap tiang masjid tersebut.
Sejarah pembangunan mesjid ini terdapat berbagai versi informasi. Menurut informasi Balai Pelestarian
Peninggalan Purbakala Batusangkar, Masjid Raya Ganting dibangun sekitar tahun 1700 M. Pembangunan
masjid ini pada saat itu masih dalam bentuk semi permanen yang terletak di tepi
Batang Arau. Mesjid
tersebut kemudian dibongkar oleh pemerintah kolonial Belanda, karena di tempat
tersebut terkena proyek pembangunan jalan ke Pelabuhan Emma Haven
(sekarang Pelabuhan Teluk Bayur). Kemudian masjid tersebut
dipindahkan ke daerah Ganting.
Tanah tempat pembangunan masjid
tersebut
berdiri di atas tanah wakaf 7 suku yang diserahkan melalui Gubernur Jenderal
Ragen Bakh, penguasa Hindia Belanda di Sumatera Barat waktu itu. Sedangkan pengerjaannya dilakukan
secara gotong-royong oleh masyarakat Ganting dan dibantu komunitas Belanda. Pendirian
Masjid Raya
Ganting juga diprakarsai oleh tiga pemuka agama di Padang,
yaitu Angku Gapuak
(saudagar dari Pasar Gadang), Angku Syekh Haji Uma (pemimpin kaum),
dan Angku Syekh
Kapalo Koto (ulama yang disegani).
Pendirian masjid tertua di Kota Padang ini menurut
sejarah diarsiteki oleh seorang arsitektur asal Belanda karena itulah seni neo klasik eropa mendominasi
bangunan masjid,
terutama pada bagian tubuh bangunan. Sedangkan arsitektur
tradisional
terdapat pada bagian atap masjid yang berbentuk tumpang lima.
Ketika gempa
bumi yang menimbulkan gelombang tsunami melanda sebagian besar
kota Padang tahun 1833, Masjid
yang memiliki 25 tiang penyangga ini termasuk bangunan yang selamat dan
hantaman gelombang tsunami. Namun ketika gempa 7,9 SR melanda Kota Padang 30 September 2009
lalu, masjid tertua di kota Padang tersebut rusak parah dan
dinyatakan tidak layak pakai. Dan sejak Februari 2010 masjid ini telah mulai
direnovasi.
Selain bersejarah dalam pembuatannya, Masjid Raya Ganting juga turut
memberi andil dalam perjalanan sejarah kota Padang. Selain lokasi dan saksi
perkembangan agama Islam di Sumatera Barat, masjid ini juga pernah dijadikan
lokasi Jambore Hisbul Wathan se-Indonesai pada 1932, dijadikan lokasi rapat pemuda pejuang di zaman proklamasi dan revolusi 1945. Tidak hanya itu, pada tahun
1942, Ir. Soekarno (Presiden Pertama Indonesia) pernah menginap di rumah di belakang masjid ini dan
selalu salat di masjid Raya Ganting ini.
Hingga saat ini, masjid Raya Ganting masih sering dikunjungi pejabat dan
tamu Negara yang beragama Islam jika berkunjung ke Padang. Masjid in juga
menjadi objek wisata sejarah bagi wisatawan asing.






0 komentar: