Di Amerika ada suatu perlombaan yang
bergengsi, yaitu spelling bee (lomba mengeja). Bagi anak-anak di Amerika,
menjadi salah satu peserta lomba mengeja adalah hal yang membangggakan.
Pasalnya tidak semua anak di Amerika bisa mengikuti lomba ini. Butuh
tahap-tahap menuju lomba mengeja tingkat nasional. Mulai dari seleksi di
sekolah masing-masing, tingkat regional, dan baru bisa mengikuti lomba di
tingkat nasional.
Film Akeelah and The Bee
bercerita tentang seorang anak perempuan berumur 11 tahun, yang bernama Akeelah
Anderson. Ia adalah gadis berkulit hitam yang tinggal di Los Angeles, Amerika. Akeelah
sangat senang bermain eja kata (spelling bee) di komputer dan tidak lupa
menuliskan setiap kata baru yang diperolehnya di buku dengan hanya ditemani
foto ayahnya.
Akeelah bisa dikatakan
sebagai seorang anak kulit hitam yang cerdas. Ia merupakan siswa yang cerdas di
sekolahnya. Walaupun sekolah tersebut bukanlah sekolah favorit, tetapi Akeelah
mampu tumbuh menjadi siswa yang pintar terutama dalam mata pelajaran bahasa
Inggris. Melihat kepintaran Akeelah, seorang gurunya meminta Akeelah untuk ikut
lomba mengeja. Awalnya, Akeelah menolak permintaan dari gurunya. Alasannya
karena ia menilai tidak mampu untuk ikut lomba berkelas seperti itu. Dalam
kutipan dialog filmnya, Akeelah menyatakan bahwa ia bisa kencing berdiri kalau
ditonton banyak orang. Akan tetapi, sejak ia melihat acara lomba tersebut di
tv, ia tertarik dan memiliki keyakinan untuk ikut lomba mengeja.
Inspirator utama Akeelah
adalah papanya. Setiap kali ia memiliki masalah, maka ia akan memandang wajah
papanya, dan ia merasa tenang. Seorang gurunya memperkenalkan Akeelah dengan
seorang pelatih mengeja yang bernama Dr. Joshua Larabee. Akeelah berlatih
dengan baik, dan pada akhirnya ia bisa lolos mewakili sekolahnya untuk ikut
lomba mengeja tingkat regional. Ketika Akeelah mengikuti lomba mengeja tingkat
regional, ia nyaris tidak bisa lolos ke babak selanjutnya lantaran tidak bisa
mengeja satu kata. Akan tetapi, keberuntungan ternyata berpihak kepada Akeelah.
Salah satu peserta didiskualifikasi karena ketahuan curang.
Menuju lomba mengeja
tingkat nasional tidaklah mudah. Banyak sekali hambatan yang harus dihadapi
Akeelah. Ibunya tidak mengizinkan Akeelah ikut lomba ini karena Akeelah harus
menyelesaikan ketertinggalan pelajaran pada musim panas. Sempat Akeelah
menyerah, dan putus asa. “Ketakutan terdalam kita adalah bukan karena kita
tidak cakap. Ketakutan terdalam kita adalah kekuatan kita dalam mengukur. Kita
bertanya pada diri kita sendiri siapa aku sehingga aku cerdas, hebat, berbakat,
dan menakjubkan? Sebenarnya, siapa sebenarnya dirimu? Kita dilahirkan untuk
membuat manifestasi. Kemuliaan Tuhan dalam diri kita. Dan begitu kita biarkan
cahaya menyala, kita tanpa sadar berikan orang lain kesempatan untuk lakukan
hal yang sama.” Itu ladalah rangkaian kata yang terdapat di rumah Dr. Larabee.
Rangkaian kata yang ditunjukkan Dr. Larabee mampu membuat Akeelah yakin dengan
kemampuan yang ia miliki. Sekarang, ia yakin bisa memenangi lomba mengeja di
tingkat nasional.
Akeelah berlatih
sungguh-sungguh dengan Dr. Larabee. Bahkan, ia berlatih dengan grup mengeja di
sekolah Javier yang jauh dari sekolahnya. Ia bertemu dengan teman-teman Javier,
dan bertemu dengan Dyland Chiu. Dyland adalah seorang anak keturunan Korea yang
memiliki otak yang cerdas. Ia menjadi juara kedua pada lomba mengeja di tingkat
nasional pada tahun lalu. Saat perlombaan mengeja tingkat nasional semakin
mendekat, Dr. Larabee tidak bisa lagi menjadi pembimbing Akeelah. Dr. Larebee
meminta Akeelah menghapal 5000 kata.
Awalnya akeelah merasa
sedih karena ia merasa ia telah ditinggalkan orang terdekatnya satu per satu
sejak ia menjadi terkenal. Dan orang-orang di kota tempatnya tinggal
mengharapkan ia untuk bisa menang. Hal itu sangat berat baginya. Namun, ibunya
member nasihat pada Akeelah bahwa akan ada 50.000 orang yang akan menjadi
pelatihnya. Akeelah belajar mengeja dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Ketika perlombaan
nasional berlangsung, Akeelah harus menyisihkan Dylan sebagai peserta tangguh
yang menjadi juara kedua pada tahun lalu. Konflik mulai memuncak ketika Akeelah
mengetahui bahwa Dyland sering ditekan oleh papanya agar bisa menjadi juara
pada lomba mengeja tahun ini. Suasana semakin menegang. Pada akhirnya, Akeelah
dan Dylan menjadi juara satu lomba mengeja tingkat nasional.



