Sahabat, dalam kehidupan kita
tentunya selalu bertemu dengan yang namanya masalah. Ketika masalah menghampiri
hidup kita, besar kecilnya masalah tersebut sebenarnya tergantung dari cara
kita menghadapinya.
Saya pernah membaca sebuah
kisah tentang pahitnya kehidupan. Dari cerita tersebut saya dapat mengambil
kesimpulan bahwa pahitnya kehidupan layakya segenggam kopi. Yang mana jika kita
menaburkan segenggam kopi tersebut ke dalam air pada wadah yang kecil, maka air
tersebut akan terasa pahit. Tetapi jika kita kita menaburkan kopi tersebut pada
sebuah telaga yang besar, maka pahit dari kopi tadi tidak akan terasa lagi dan
kita akan merasakan air yang segar.
Wadah yang kita miliki
ibaratkan hati dan perasaan kita yang akan menentukan rasa pahit yang kita
rasakan. Jangan jadikan hati kita sebagai wadah yang kecil tadi, tetapi
buatlah hati ini seperti telaga yang mampu menampung segala kepahitan hingga
menjadi tidak terasa dan tidak mempengaruhi kesegaran dan kedamaian kita.
Sahabat, tidak adil rasanya
jika hanya saya saja yang mengambil kesimpulan dan hikmah dari cerita yang saya
baca itu. Saya juga ingin berbagi kepada sahabat semua yang mengisahkan tentang
pahitnya kehidupan. Berikut kisahnya…
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu
pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti
orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua
masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu
mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba,
minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu.
"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil
meludah kesamping.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke
dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan
tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air dari
telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua
berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".
"Segar.", sahut tamunya.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?",
tanya Pak Tua lagi.
"Tidak", jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak
muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah
layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu
adalah sama, dan memang akan tetap sama.
"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat
tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari
perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati
kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada
satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu,
adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu
menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah
laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi
kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari
itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam
garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa
keresahan jiwa.




0 komentar: